Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKALAH GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME (AUSTISTIC, SINDROM ASPENGER)

 
















GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME

(AUSTISTIC, SINDROM ASPENGER)

MATA KULIAH PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 


Dosen pengampu: Dr Ridwan, S.Psi., M.Psi.

Disusun oleh

Inong Kumala Dewi

NIM. 209250064

 

Saidah

NIM.209250091

 

 

Misnawati

NIM.209250077

 

 

 

PROGRAM STUDI

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUTHA THAHA SAIFUDDIN JAMBI

2026


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah/skripsi yang berjudul Gangguan Spektrum Autisme (Austistic, Sindrom Aspenger).Penulisan karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas akademik mata kuliah pendidikan anak berkebutuhan khusus. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Penyelesaian karya ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat serta kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus.

 

                                    Penulis

 

 


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 1

DAFTAR ISI. 2

BAB 1. 3

PENDAHULUAN.. 3

1.1. Latar Belakang. 3

1.2 Rumusan Masalah. 4

1.3 Tujuan Penelitian. 5

BAB II. 6

KAJIAN TEORI. 6

2.1 Pengertian Gangguan Spektrum Autisme. 6

2.2 Dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak dengan Gangguan Spektrum Autisme. 7

2.3 Karakteristik Klinis Yang Membedakan Antara Autisme Klasik (Autistic Disorder) Dengan Sindrom Asperger Berdasarkan Kriteria Diagnostik DSM-5. 8

2.4 Dukungan Sosial (Keluarga/Lingkungan) Memengaruhi Tingkat Stres Ibu Yang Memiliki Anak Dengan Spektrum Autisme. 10

BAB III. 12

PENUTUP. 12

3.1   Kesimpulan. 12

3.2   Saran. 13

DAFTAR PUSTAKA.. 14

 

 


 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang

Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) merupakan kelompok gangguan perkembangan saraf kompleks yang ditandai oleh hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi, serta adanya pola perilaku yang repetitif dan stereotipik (American Psychiatric Association [APA], 2013). Secara historis, terminologi ini mengalami perubahan signifikan. Dahulu, dalam DSM-IV, Autisme dan Sindrom Asperger dipisahkan sebagai diagnosis yang berbeda. Namun, sejak diterbitkannya DSM-5, kondisi-kondisi ini disatukan ke dalam satu payung besar yang disebut "Spektrum" untuk mengakomodasi variasi gejala dan tingkat keparahan yang luas pada setiap individu (Handojo, 2021). Individu dengan autisme klasik umumnya menunjukkan hambatan komunikasi verbal yang signifikan dan keterlambatan perkembangan sejak usia dini. Di sisi lain, Sindrom Asperger sering kali disebut sebagai high-functioning autism. Individu dengan Asperger biasanya tidak memiliki keterlambatan bicara yang signifikan dan memiliki tingkat kecerdasan rata-rata hingga di atas rata-rata, namun mereka berjuang keras dalam memahami isyarat sosial, sarkasme, dan empati kognitif (Attwood, 2023).

 Perbedaan utama terletak pada kemampuan kognitif dan bahasa awal, meskipun keduanya sama-sama mengalami kesulitan dalam navigasi sosial yang kompleks. Penyebab pasti ASD masih menjadi subjek penelitian intensif, namun bukti ilmiah saat ini menunjukkan adanya kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan otak janin (Desiningrum, 2017). Secara global, prevalensi ASD terus meningkat. Hal ini didorong oleh peningkatan kesadaran masyarakat serta kriteria diagnostik yang lebih inklusif. Peningkatan ini menuntut perhatian serius dari sektor kesehatan dan pendidikan untuk menyediakan sistem pendukung yang memadai bagi individu spektrum ini agar mereka dapat berfungsi secara mandiri di masyarakat. Masalah utama yang dihadapi adalah adanya stigma negatif dan kurangnya pemahaman masyarakat yang menganggap ASD sebagai penyakit yang harus "disembuhkan", padahal ASD adalah variasi neurologis seumur hidup. Tanpa deteksi dini dan intervensi yang tepat, seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi perilaku individu dengan ASD berisiko mengalami isolasi sosial dan kesulitan ekonomi di masa dewasa (Sunardi & Sunaryo, 2020). Oleh karena itu, penyusunan strategi edukasi dan lingkungan yang inklusif menjadi sangat krusial.

Panjangnya prosedur dan mahalnya biaya diagnosis ASD dapat diatasi dengan mengurangi atribut yang terlibat dalam kuesioner diagnosis ASD seperti yang telah dilakukan pada (Thabtah, 2017). Penelitian tersebut secara khusus menekankan parameter yang terdapat pada metode Diagnostic and Statistical Manual (DSM) sebagai urgensi dalam memperbarui alat skrining klinis untuk mencerminkan perubahan yang diusulkan dalam manual DSM-5 dan berhasil menemukan parameter penentu (kriteria baru) sebagai gejala gangguan spektrum autisme dalam metode DSM-5.

Anak autis memiliki keterbatasan dalam melakukan berbagai perilaku adaptif yaitu kemampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan seperti keterampilan bersosialisasi, berkomunikasi, dan hidup mandiri sehingga dalam mengevaluasi perilaku anak autis diberikan kepada orang tua atau pengasuh. Guru juga memiliki peran penting dalam memberikan informasi mengenai keterampilan hidup mandiri dan kemampuan untuk bernegosiasi pada anak autis terhadap lingkungan (Spencer and Simpson, 2009). Berdasarkan keterbatasan yang dimiliki, maka anak autis atau seseorang yang memberikan pembelajaran pada anak autis baik orang tua maupun guru membutuhkan sebuah media yang dapat membantu pembelajaran, pemahaman, dan komunikasi.

1.2 Rumusan Masalah

1.     Bagaimana dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak dengan Gangguan Spektrum Autisme?

2.     Bagaimana karakteristik klinis yang membedakan antara Autisme Klasik (Autistic Disorder) dengan Sindrom Asperger berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5

3.     Sejauh mana dukungan sosial (keluarga/lingkungan) memengaruhi tingkat stres ibu yang memiliki anak dengan spektrum autisme?

1.3 Tujuan Penelitian

1.     Untuk mengetahui dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak dengan Gangguan Spektrum Autisme?

2.     Untuk mengetahui bagaimana karakteristik klinis yang membedakan antara Autisme Klasik (Autistic Disorder) dengan Sindrom Asperger berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5?

3.     Unuk mengetahui sejauh mana dukungan sosial (keluarga/lingkungan) memengaruhi tingkat stres ibu yang memiliki anak dengan spektrum autisme?

 


 

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Gangguan Spektrum Autisme

Secara etimologis, istilah "autisme" berasal dari bahasa Yunani "autos" yang berarti diri sendiri. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Leo Kanner pada tahun 1943 untuk menggambarkan anak-anak yang menunjukkan penarikan diri secara sosial dan keinginan untuk mempertahankan kesamaan di lingkungannya (Kanner, 1943). Penggunaan istilah "Spektrum" dalam Gangguan Spektrum Autisme (GSA) menunjukkan bahwa gejala dan tingkat keparahan gangguan ini sangat bervariasi pada setiap individu. Tidak ada dua individu dengan autisme yang memiliki profil gejala yang identik (American Psychiatric Association, 2013). Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), Gangguan Spektrum Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh defisit persisten pada komunikasi sosial dan interaksi sosial di berbagai konteks, serta adanya pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif (American Psychiatric Association, 2013).

Defisit ini biasanya muncul pada masa kanak-kanak awal dan menyebabkan hambatan yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsional penting lainnya (Lord et al., 2018). Individu dengan GSA seringkali mengalami kesulitan dalam timbal balik sosial-emosional, kegagalan dalam percakapan normal, hingga kurangnya minat untuk berbagi minat atau emosi dengan orang lain (Handojo, 2009). Hal ini mencakup gerakan motorik yang stereotipik (seperti mengepakkan tangan), kepatuhan yang kaku pada rutinitas, serta sensitivitas yang tidak biasa terhadap input sensorik, baik itu hipersensitif maupun hiposensitif (National Institute of Mental Health, 2022). Kajian terkini menekankan bahwa autisme bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah, melainkan merupakan gangguan neurobiologis yang kompleks. Adanya perbedaan dalam struktur dan fungsi otak, khususnya pada area yang mengatur pemrosesan sosial dan informasi sensorik, menjadi faktor utama penyebab gangguan ini (Ginanjar, 2008).

Meskipun penyebab pastinya masih diteliti, kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan diyakini berperan kuat dalam perkembangan otak sejak dalam kandungan (Shattuck et al., 2012).

2.2           Dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak dengan Gangguan Spektrum Autisme

1.     Definisi Resiliensi pada Orang Tua

Resiliensi bukan sekadar kemampuan untuk bertahan, melainkan kapasitas individu untuk beradaptasi secara positif dan bangkit kembali setelah mengalami kesulitan atau trauma (Grotberg, 1995). Dalam konteks pengasuhan anak dengan GSA, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan keluarga atau orang tua untuk mempertahankan fungsi yang sehat, kesejahteraan psikologis, dan integritas keluarga meskipun menghadapi tantangan pengasuhan yang berat (Bayat, 2007).

2.     Tantangan Pengasuhan Anak GSA sebagai Stressor

Orang tua yang memiliki anak dengan GSA seringkali menghadapi tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

a.      Karakteristik Gejala: Hambatan komunikasi dan perilaku tantrum yang sulit diprediksi (American Psychiatric Association, 2013).

b.      Stigma Sosial: Pandangan negatif masyarakat terhadap perilaku anak di tempat umum (Gray, 2002).

c.      Beban Finansial: Biaya terapi, pendidikan khusus, dan intervensi medis yang berkelanjutan (Ginanjar, 2008).

3. Dinamika dan Proses Resiliensi

Dinamika resiliensi melibatkan interaksi antara faktor risiko dan faktor pelindung (protective factors). Walsh (2016) menjelaskan bahwa resiliensi dalam keluarga merupakan proses dinamis yang mencakup tiga domain utama:

 

a.     Sistem Keyakinan (Belief Systems)

Orang tua yang resilien cenderung mampu memaknai kesulitan sebagai tantangan yang dapat dikelola. Mereka seringkali menemukan makna spiritual atau tujuan baru hidup melalui kehadiran anak tersebut (Walsh, 2016).

b.     Pola Pengorganisasian (Organizational Patterns)

Fleksibilitas dalam peran keluarga dan kemampuan untuk memobilisasi dukungan sosial sangat krusial. Orang tua yang mampu membangun jejaring sosial (keluarga besar, komunitas sesama orang tua anak GSA) memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi (Bayat, 2007).

c.     Proses Komunikasi (Communication Processes)

Komunikasi yang terbuka, jujur, dan kolaboratif antara ayah dan ibu dalam berbagi beban pengasuhan memungkinkan keluarga untuk memecahkan masalah secara efektif (Patterson, 2002).

4.     Faktor-Faktor yang Memengaruhi Resiliensi

Beberapa faktor internal dan eksternal yang menentukan kekuatan resiliensi orang tua meliputi:

a.     Efikasi Diri (Self-Efficacy): Keyakinan orang tua bahwa mereka mampu mengasuh dan menangani perilaku anak secara efektif (Bandura, 1997).

b.     Dukungan Sosial: Dukungan emosional dan instrumental dari lingkungan sekitar (Gray, 2006).

c.     Strategi Koping: Penggunaan strategi koping yang berorientasi pada masalah (problem-focused coping) terbukti lebih efektif meningkatkan resiliensi daripada koping yang berorientasi pada emosi atau penghindaran (Lazarus & Folkman, 1984).

2.3 Karakteristik Klinis Yang Membedakan Antara Autisme Klasik (Autistic Disorder) Dengan Sindrom Asperger Berdasarkan Kriteria Diagnostik DSM-5

Dalam DSM-IV, Autisme Klasik dan Sindrom Asperger dipandang sebagai entitas yang berbeda di bawah kategori Pervasive Developmental Disorders (PDD). Namun, DSM-5 menghapuskan sub-kategori tersebut dan menggantinya dengan Gangguan Spektrum Autisme (American Psychiatric Association, 2013). Keputusan ini diambil karena dalam praktik klinis, perbedaan antara keduanya seringkali tidak konsisten dan lebih berkaitan dengan tingkat keparahan gejala daripada perbedaan patologi yang mendasar (Lord et al., 2018).

1.     Karakteristik Autisme Klasik, yang sering dikaitkan dengan kriteria "Autisme Kanner", memiliki karakteristik utama sebagai berikut:

a.     Hambatan Bahasa yang Signifikan: Terdapat keterlambatan atau ketiadaan total perkembangan bahasa bicara (Handojo, 2009).

b.     Hambatan Kognitif: Sering kali disertai dengan disabilitas intelektual atau skor IQ yang berada di bawah rata-rata (Ginanjar, 2008).

c.     Usia: Gejala biasanya sangat nyata sebelum anak mencapai usia 3 tahun, terutama pada ketidakmampuan melakukan kontak mata dan interaksi sosial dasar (American Psychiatric Association, 2013).

2.     Karakteristik Klinis Sindrom Asperger

Berbeda dengan Autisme Klasik, Sindrom Asperger sering disebut sebagai high-functioning autism. Karakteristiknya meliputi:

a.     Kemampuan Bahasa yang Baik: Tidak ada keterlambatan bahasa yang signifikan secara klinis. Individu cenderung memiliki kosakata yang luas, namun mengalami kesulitan dalam aspek pragmatik atau tata cara berkomunikasi sosial (Attwood, 2007).

b.     Fungsi Kognitif Normal hingga Tinggi: Individu dengan Asperger umumnya memiliki IQ rata-rata atau bahkan di atas rata-rata, seringkali dengan minat yang sangat mendalam pada bidang spesifik tertentu (Klin et al., 2005).

c.     Hambatan Motorik: Seringkali ditemukan kecanggungan fisik atau koordinasi motorik yang kurang baik, yang jarang menjadi ciri utama pada Autisme Klasik

Meskipun disatukan dalam spektrum yang sama, perbedaan klinis keduanya jika ditarik dari sejarah diagnosisnya adalah:

 

Tabel Perbedaan

Aspek Perbedaan

Autisme Klasik

Sindrom Asperger

Kemampuan Kognitif

Sering disertai hambatan intelektual.

Umumnya normal atau superior.

Perkembangan Bahasa

Terlambat secara signifikan.

Tidak ada keterlambatan klinis.

Interaksi Sosial

Terlihat menarik diri atau "di dunianya sendiri".

Ingin bersosialisasi tapi "aneh" atau kaku.

Minat Khusus

Lebih ke arah sensorik atau benda berputar.

Lebih ke arah penguasaan fakta atau informasi.

2.4 Dukungan Sosial (Keluarga/Lingkungan) Memengaruhi Tingkat Stres Ibu Yang Memiliki Anak Dengan Spektrum Autisme

1. Konsep Stres Pengasuhan pada Ibu

Stres pengasuhan (parenting stress) adalah tekanan psikologis yang muncul dari tuntutan peran sebagai orang tua yang dirasakan melebihi sumber daya personal yang dimiliki (Abidin, 1992). Ibu seringkali melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan ayah karena peran mereka sebagai pengasuh utama (primary caregiver). Pada kasus GSA, gejala perilaku anak yang sulit diprediksi dan tantangan komunikasi menjadi sumber stresor kronis yang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis ibu (Ginanjar, 2008).

2. Definisi dan Dimensi Dukungan Sosial

Dukungan sosial merupakan kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang diterima individu dari orang lain atau kelompok (Sarafino & Smith, 2014). House (dalam Smet, 1994) membagi dukungan sosial menjadi empat dimensi utama:

a.      Dukungan Emosional: Empati, cinta, dan kepercayaan.

b.      Dukungan Instrumental: Bantuan langsung berupa tenaga atau finansial.

c.      Dukungan Informatif: Pemberian saran, arahan, atau informasi terkait penanganan anak.

d.      Dukungan Penghargaan: Umpan balik positif dan penguatan terhadap kemampuan ibu.

3.     Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Stres Ibu

Keluarga (terutama suami) merupakan lingkaran dukungan pertama dan terpenting. Dukungan dari suami berfungsi sebagai faktor pelindung (protective factor) yang signifikan dalam memitigasi dampak stresor. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merasa dibantu oleh suaminya dalam tugas pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga menunjukkan tingkat depresi yang lebih rendah (Gray, 2006). Sebaliknya, konflik keluarga atau kurangnya keterlibatan suami dapat memperburuk kondisi emosional ibu (Patterson, 2002).

4. Pengaruh Dukungan Lingkungan dan Masyarakat

Dukungan lingkungan mencakup bantuan dari keluarga besar, teman, tetangga, serta komunitas profesional.

a.      Lingkungan Sosial: Penerimaan tetangga dan masyarakat sekitar terhadap kondisi anak GSA dapat mengurangi beban emosional ibu terkait stigma sosial (Gray, 2002).

b.      Komunitas Pendukung: Berinteraksi dengan sesama orang tua yang memiliki anak GSA memberikan perasaan senasib (shared experience) yang memperkuat koping ibu melalui pertukaran informasi dan validasi emosional (Bayat, 2007).

5. Mekanisme Dukungan Sosial dalam Menurunkan Stres

Berdasarkan Buffering Hypothesis (Hipotesis Penyangga), dukungan sosial bertindak sebagai penyangga yang melindungi individu dari efek negatif stres (Lazarus & Folkman, 1984). Dukungan sosial memengaruhi persepsi ibu terhadap beban yang dipikul; dengan adanya bantuan (baik emosional maupun instrumental), ibu tidak lagi melihat tantangan pengasuhan sebagai sesuatu yang mengancam, melainkan sesuatu yang dapat dikelola (manageable) (Walsh, 2016).

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

1.     Dinamika Resiliensi Orang Tua

Dinamika resiliensi orang tua dengan anak GSA bukanlah sebuah kondisi statis, melainkan sebuah proses adaptasi aktif. Resiliensi ini terbentuk melalui interaksi antara faktor risiko (stresor pengasuhan) dan faktor pelindung. Orang tua yang resilien mampu mengubah persepsi mereka terhadap tantangan, menemukan makna baru dalam pengasuhan, serta memiliki fleksibilitas dalam mengelola peran keluarga. Kunci dari dinamika ini adalah kemampuan untuk bangkit dari tekanan melalui efikasi diri yang kuat dan pemanfaatan sumber daya internal maupun eksternal secara efektif.

2.     Perbedaan Klinis Autisme Klasik vs. Sindrom Asperger (DSM-5)

Meskipun DSM-5 telah menyatukan keduanya ke dalam payung Gangguan Spektrum Autisme (GSA), terdapat perbedaan klinis yang mendasar secara historis dan fungsional:

a.      Autisme Klasik: Ditandai dengan keterlambatan bahasa yang signifikan, hambatan kognitif (IQ sering di bawah rata-rata), dan onset gejala yang terlihat sangat awal (sebelum usia 3 tahun).

b.      Sindrom Asperger: Tidak menunjukkan keterlambatan bahasa yang signifikan secara klinis dan memiliki fungsi kognitif (IQ) yang normal hingga tinggi. Hambatan utama lebih terletak pada pragmatik komunikasi sosial dan kecanggungan motorik.

c.      Relevansi DSM-5: Perbedaan kini lebih ditekankan pada Level Dukungan yang dibutuhkan (Level 1, 2, atau 3) daripada label diagnosis terpisah.

3.     Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Stres Ibu

Dukungan sosial memiliki pengaruh yang sangat signifikan sebagai penyangga (buffer) terhadap tingkat stres ibu.

a.      Dukungan Keluarga: Khususnya dari suami, merupakan prediktor utama rendahnya tingkat stres dan depresi pada ibu. Keterlibatan suami dalam bantuan instrumental dan emosional secara langsung menurunkan beban pengasuhan.

b.      Dukungan Lingkungan: Penerimaan masyarakat dan keberadaan komunitas sesama orang tua membantu ibu mengatasi stigma dan memberikan validasi emosional.

c.      Kesimpulan Hubungan: Semakin tinggi dan tepat jenis dukungan sosial yang diterima (terutama dukungan instrumental dan emosional), maka semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang dirasakan oleh ibu, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas interaksi ibu dan anak.

3.2  Saran

1.      Pengembangan Penelitian

Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian longitudinal guna melihat bagaimana dinamika resiliensi orang tua berubah seiring dengan bertambahnya usia anak (dari masa kanak-kanak ke masa remaja/dewasa).

2.      Bagi Orang Tua:

a.      Sangat disarankan bagi orang tua untuk bergabung dengan komunitas atau support group sesama orang tua anak GSA. Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan emosional dan pertukaran informasi teknis mengenai terapi.

b.      Membangun komunikasi yang terbuka antara ayah dan ibu dalam pembagian tugas pengasuhan (co-parenting) guna mencegah kelelahan fisik dan mental (burnout).

3.      Bagi Lingkungan Masyarakat:

Masyarakat diharapkan dapat memberikan dukungan inklusif dan menghentikan stigma negatif terhadap perilaku anak GSA di tempat umum, karena penerimaan lingkungan sangat berpengaruh pada penurunan stress ibu.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

Attwood, T. (2023). The Complete Guide to Asperger's Syndrome. London: Jessica Kingsley Publishers.

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company.

Bayat, M. (2007). Evidence of resilience in families of children with autism. Journal of Intellectual Disability Research, 51(9), 702-714.

Desiningrum, D. R. (2017). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Psikosain.

Ginanjar, A. S. (2008). Menjadi Orang Tua Khusus: Penanganan Anak Autistik. Jakarta: Dian Rakyat.

Gray, D. E. (2002). Ten years on: A longitudinal study of families of children with autism. Journal of Intellectual & Developmental Disability, 27(3), 215-222.

Gray, D. E. (2006). Coping over time: The parents of children with autism. Journal of Intellectual Disability Research, 50(12), 970-976.

Grotberg, E. H. (1995). A Guide to Promoting Resilience in Children: Strengthening the Human Spirit. The Hague: Bernard van Leer Foundation

Handojo, Y. (2009). Autisme: Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi untuk Mengajar Anak Autis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Handojo, Y. (2021). Autisma: Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi untuk Mengajar Anak Autis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Kanner, L. (1943). Autistic disturbances of affective contact. Nervous Child, 2, 217–250.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer Publishing Company.

Lord, C., Brugha, T. S., Charman, T., Cusack, J., Dumas, G., Frazier, T., ... & Veenstra-VanderWeele, J. (2018). Autism spectrum disorder. The Lancet, 392(10146), 508-523.

Patterson, J. M. (2002). Integrating family resilience and family stress theory. Journal of Marriage and Family, 64(2), 349-360.

Sunardi, & Sunaryo. (2020). Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika Aditama

Shattuck, P. T., Narendorf, S. C., Cooper, B., Sterzing, P. R., Wagner, M., & Taylor, J. L. (2012). Postsecondary education and employment among youth with an autism spectrum disorder. Pediatrics, 129(6), 1042-1049.

Walsh, F. (2016). Strengthening Family Resilience (3rd ed.). New York: The Guilford Press.