MAKALAH GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME (AUSTISTIC, SINDROM ASPENGER)
GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME
(AUSTISTIC, SINDROM ASPENGER)
MATA KULIAH PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Dosen pengampu: Dr Ridwan, S.Psi., M.Psi.
Disusun oleh
Inong Kumala Dewi
NIM. 209250064
Saidah
NIM.209250091
Misnawati
NIM.209250077
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUTHA THAHA
SAIFUDDIN JAMBI
2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah/skripsi yang
berjudul “Gangguan Spektrum Autisme (Austistic,
Sindrom Aspenger)”.Penulisan karya
ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas akademik mata kuliah
pendidikan anak berkebutuhan khusus. Penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini. Penyelesaian karya ini tidak lepas dari
bantuan, bimbingan, dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang.
Akhir kata, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat serta kontribusi
positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan
bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Penulis
DAFTAR ISI
2.1 Pengertian Gangguan
Spektrum Autisme
2.2 Dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak
dengan Gangguan Spektrum Autisme
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Gangguan Spektrum
Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) merupakan kelompok gangguan perkembangan
saraf kompleks yang ditandai oleh hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi,
serta adanya pola perilaku yang repetitif dan stereotipik (American Psychiatric
Association [APA], 2013). Secara historis, terminologi ini mengalami perubahan
signifikan. Dahulu, dalam DSM-IV, Autisme dan Sindrom Asperger dipisahkan
sebagai diagnosis yang berbeda. Namun, sejak diterbitkannya DSM-5,
kondisi-kondisi ini disatukan ke dalam satu payung besar yang disebut
"Spektrum" untuk mengakomodasi variasi gejala dan tingkat keparahan
yang luas pada setiap individu (Handojo, 2021). Individu dengan autisme klasik
umumnya menunjukkan hambatan komunikasi verbal yang signifikan dan
keterlambatan perkembangan sejak usia dini. Di sisi lain, Sindrom Asperger sering
kali disebut sebagai high-functioning autism. Individu dengan Asperger
biasanya tidak memiliki keterlambatan bicara yang signifikan dan memiliki
tingkat kecerdasan rata-rata hingga di atas rata-rata, namun mereka berjuang
keras dalam memahami isyarat sosial, sarkasme, dan empati kognitif (Attwood,
2023).
Perbedaan utama terletak pada kemampuan
kognitif dan bahasa awal, meskipun keduanya sama-sama mengalami kesulitan dalam
navigasi sosial yang kompleks. Penyebab pasti ASD masih menjadi subjek
penelitian intensif, namun bukti ilmiah saat ini menunjukkan adanya kombinasi
faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan otak janin
(Desiningrum, 2017). Secara global, prevalensi ASD terus meningkat. Hal ini
didorong oleh peningkatan kesadaran masyarakat serta kriteria diagnostik yang
lebih inklusif. Peningkatan ini menuntut perhatian serius dari sektor kesehatan
dan pendidikan untuk menyediakan sistem pendukung yang memadai bagi individu
spektrum ini agar mereka dapat berfungsi secara mandiri di masyarakat. Masalah
utama yang dihadapi adalah adanya stigma negatif dan kurangnya pemahaman
masyarakat yang menganggap ASD sebagai penyakit yang harus
"disembuhkan", padahal ASD adalah variasi neurologis seumur hidup.
Tanpa deteksi dini dan intervensi yang tepat, seperti terapi wicara, terapi
okupasi, dan terapi perilaku individu dengan ASD berisiko mengalami isolasi
sosial dan kesulitan ekonomi di masa dewasa (Sunardi & Sunaryo, 2020). Oleh
karena itu, penyusunan strategi edukasi dan lingkungan yang inklusif menjadi
sangat krusial.
Panjangnya prosedur dan
mahalnya biaya diagnosis ASD dapat diatasi dengan mengurangi atribut yang
terlibat dalam kuesioner diagnosis ASD seperti yang telah dilakukan pada
(Thabtah, 2017). Penelitian tersebut secara khusus menekankan parameter yang
terdapat pada metode Diagnostic and Statistical Manual (DSM) sebagai urgensi
dalam memperbarui alat skrining klinis untuk mencerminkan perubahan yang
diusulkan dalam manual DSM-5 dan berhasil menemukan parameter penentu (kriteria
baru) sebagai gejala gangguan spektrum autisme dalam metode DSM-5.
Anak autis memiliki
keterbatasan dalam melakukan berbagai perilaku adaptif yaitu kemampuan
seseorang untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan seperti keterampilan
bersosialisasi, berkomunikasi, dan hidup mandiri sehingga dalam mengevaluasi
perilaku anak autis diberikan kepada orang tua atau pengasuh. Guru juga
memiliki peran penting dalam memberikan informasi mengenai keterampilan hidup
mandiri dan kemampuan untuk bernegosiasi pada anak autis terhadap lingkungan
(Spencer and Simpson, 2009). Berdasarkan keterbatasan yang dimiliki, maka anak
autis atau seseorang yang memberikan pembelajaran pada anak autis baik orang
tua maupun guru membutuhkan sebuah media yang dapat membantu pembelajaran,
pemahaman, dan komunikasi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak dengan Gangguan Spektrum
Autisme?
2. Bagaimana
karakteristik klinis yang membedakan antara Autisme Klasik (Autistic
Disorder) dengan Sindrom Asperger berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5
3. Sejauh
mana dukungan sosial (keluarga/lingkungan) memengaruhi tingkat stres ibu yang
memiliki anak dengan spektrum autisme?
1.3 Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh
anak dengan Gangguan Spektrum Autisme?
2.
Untuk mengetahui bagaimana karakteristik klinis yang membedakan antara
Autisme Klasik (Autistic Disorder) dengan Sindrom Asperger berdasarkan
kriteria diagnostik DSM-5?
3.
Unuk mengetahui sejauh mana dukungan sosial
(keluarga/lingkungan) memengaruhi tingkat stres ibu yang memiliki anak dengan
spektrum autisme?
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian
Gangguan Spektrum Autisme
Secara etimologis, istilah "autisme" berasal dari bahasa
Yunani "autos" yang berarti diri sendiri. Istilah ini pertama kali
digunakan oleh Leo Kanner pada tahun 1943 untuk menggambarkan anak-anak yang
menunjukkan penarikan diri secara sosial dan keinginan untuk mempertahankan
kesamaan di lingkungannya (Kanner, 1943). Penggunaan istilah "Spektrum"
dalam Gangguan Spektrum Autisme (GSA) menunjukkan bahwa gejala dan tingkat
keparahan gangguan ini sangat bervariasi pada setiap individu. Tidak ada dua
individu dengan autisme yang memiliki profil gejala yang identik (American
Psychiatric Association, 2013). Menurut Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), Gangguan Spektrum Autisme adalah
gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh defisit persisten pada
komunikasi sosial dan interaksi sosial di berbagai konteks, serta adanya pola
perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif (American
Psychiatric Association, 2013).
Defisit ini biasanya muncul pada masa kanak-kanak awal dan
menyebabkan hambatan yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area
fungsional penting lainnya (Lord et al., 2018). Individu dengan GSA seringkali
mengalami kesulitan dalam timbal balik sosial-emosional, kegagalan dalam
percakapan normal, hingga kurangnya minat untuk berbagi minat atau emosi dengan
orang lain (Handojo, 2009). Hal ini mencakup gerakan motorik yang stereotipik
(seperti mengepakkan tangan), kepatuhan yang kaku pada rutinitas, serta
sensitivitas yang tidak biasa terhadap input sensorik, baik itu hipersensitif
maupun hiposensitif (National Institute of Mental Health, 2022). Kajian terkini
menekankan bahwa autisme bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah, melainkan
merupakan gangguan neurobiologis yang kompleks. Adanya perbedaan dalam struktur
dan fungsi otak, khususnya pada area yang mengatur pemrosesan sosial dan
informasi sensorik, menjadi faktor utama penyebab gangguan ini (Ginanjar,
2008).
Meskipun penyebab pastinya masih diteliti, kombinasi antara faktor
genetik dan lingkungan diyakini berperan kuat dalam perkembangan otak sejak
dalam kandungan (Shattuck et al., 2012).
2.2
Dinamika resiliensi orang tua dalam mengasuh anak
dengan Gangguan Spektrum Autisme
1.
Definisi Resiliensi pada Orang Tua
Resiliensi bukan sekadar kemampuan untuk bertahan, melainkan
kapasitas individu untuk beradaptasi secara positif dan bangkit kembali setelah
mengalami kesulitan atau trauma (Grotberg, 1995). Dalam konteks pengasuhan anak
dengan GSA, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan keluarga atau orang tua
untuk mempertahankan fungsi yang sehat, kesejahteraan psikologis, dan
integritas keluarga meskipun menghadapi tantangan pengasuhan yang berat (Bayat,
2007).
2.
Tantangan Pengasuhan Anak GSA sebagai Stressor
Orang tua yang
memiliki anak dengan GSA seringkali menghadapi tingkat stres yang lebih tinggi
dibandingkan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus lainnya. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Karakteristik Gejala: Hambatan komunikasi dan perilaku tantrum yang
sulit diprediksi (American Psychiatric Association, 2013).
b. Stigma Sosial: Pandangan negatif masyarakat terhadap perilaku anak
di tempat umum (Gray, 2002).
c. Beban Finansial: Biaya terapi, pendidikan khusus, dan intervensi
medis yang berkelanjutan (Ginanjar, 2008).
3. Dinamika dan Proses Resiliensi
Dinamika resiliensi melibatkan interaksi antara faktor risiko dan
faktor pelindung (protective factors). Walsh (2016) menjelaskan bahwa
resiliensi dalam keluarga merupakan proses dinamis yang mencakup tiga domain
utama:
a.
Sistem Keyakinan (Belief Systems)
Orang tua yang
resilien cenderung mampu memaknai kesulitan sebagai tantangan yang dapat
dikelola. Mereka seringkali menemukan makna spiritual atau tujuan baru hidup
melalui kehadiran anak tersebut (Walsh, 2016).
b.
Pola Pengorganisasian (Organizational Patterns)
Fleksibilitas
dalam peran keluarga dan kemampuan untuk memobilisasi dukungan sosial sangat
krusial. Orang tua yang mampu membangun jejaring sosial (keluarga besar,
komunitas sesama orang tua anak GSA) memiliki tingkat resiliensi yang lebih
tinggi (Bayat, 2007).
c.
Proses Komunikasi (Communication Processes)
Komunikasi yang
terbuka, jujur, dan kolaboratif antara ayah dan ibu dalam berbagi beban
pengasuhan memungkinkan keluarga untuk memecahkan masalah secara efektif
(Patterson, 2002).
4.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Resiliensi
Beberapa faktor internal dan eksternal yang menentukan kekuatan
resiliensi orang tua meliputi:
a.
Efikasi
Diri (Self-Efficacy): Keyakinan orang tua bahwa mereka mampu mengasuh
dan menangani perilaku anak secara efektif (Bandura, 1997).
b.
Dukungan
Sosial: Dukungan emosional dan instrumental dari lingkungan sekitar (Gray,
2006).
c.
Strategi
Koping: Penggunaan strategi koping yang berorientasi pada masalah (problem-focused
coping) terbukti lebih efektif meningkatkan resiliensi daripada koping yang
berorientasi pada emosi atau penghindaran (Lazarus & Folkman, 1984).
2.3 Karakteristik Klinis Yang Membedakan Antara
Autisme Klasik (Autistic Disorder) Dengan Sindrom Asperger Berdasarkan
Kriteria Diagnostik DSM-5
Dalam DSM-IV, Autisme Klasik dan Sindrom Asperger dipandang sebagai
entitas yang berbeda di bawah kategori Pervasive Developmental Disorders
(PDD). Namun, DSM-5 menghapuskan sub-kategori tersebut dan menggantinya dengan
Gangguan Spektrum Autisme (American Psychiatric Association, 2013). Keputusan
ini diambil karena dalam praktik klinis, perbedaan antara keduanya seringkali
tidak konsisten dan lebih berkaitan dengan tingkat keparahan gejala daripada
perbedaan patologi yang mendasar (Lord et al., 2018).
1.
Karakteristik
Autisme Klasik, yang sering dikaitkan dengan kriteria "Autisme
Kanner", memiliki karakteristik utama sebagai berikut:
a.
Hambatan
Bahasa yang Signifikan: Terdapat keterlambatan atau ketiadaan total
perkembangan bahasa bicara (Handojo, 2009).
b.
Hambatan
Kognitif: Sering kali disertai dengan disabilitas intelektual atau skor IQ yang
berada di bawah rata-rata (Ginanjar, 2008).
c.
Usia:
Gejala biasanya sangat nyata sebelum anak mencapai usia 3 tahun, terutama pada
ketidakmampuan melakukan kontak mata dan interaksi sosial dasar (American
Psychiatric Association, 2013).
2.
Karakteristik
Klinis Sindrom Asperger
Berbeda dengan Autisme Klasik, Sindrom Asperger sering disebut
sebagai high-functioning autism. Karakteristiknya meliputi:
a.
Kemampuan
Bahasa yang Baik: Tidak ada keterlambatan bahasa yang signifikan secara klinis.
Individu cenderung memiliki kosakata yang luas, namun mengalami kesulitan dalam
aspek pragmatik atau tata cara berkomunikasi sosial (Attwood, 2007).
b.
Fungsi
Kognitif Normal hingga Tinggi: Individu dengan Asperger umumnya memiliki IQ
rata-rata atau bahkan di atas rata-rata, seringkali dengan minat yang sangat
mendalam pada bidang spesifik tertentu (Klin et al., 2005).
c.
Hambatan
Motorik: Seringkali ditemukan kecanggungan fisik atau koordinasi motorik yang
kurang baik, yang jarang menjadi ciri utama pada Autisme Klasik
Meskipun disatukan dalam spektrum yang sama, perbedaan klinis
keduanya jika ditarik dari sejarah diagnosisnya adalah:
Tabel Perbedaan
|
Aspek Perbedaan |
Autisme Klasik |
Sindrom Asperger |
|
Kemampuan Kognitif |
Sering disertai hambatan intelektual. |
Umumnya normal atau superior. |
|
Perkembangan Bahasa |
Terlambat secara signifikan. |
Tidak ada keterlambatan klinis. |
|
Interaksi Sosial |
Terlihat menarik diri atau "di dunianya
sendiri". |
Ingin bersosialisasi tapi "aneh"
atau kaku. |
|
Minat Khusus |
Lebih ke arah sensorik atau benda berputar. |
Lebih ke arah penguasaan fakta atau
informasi. |
2.4
Dukungan Sosial (Keluarga/Lingkungan) Memengaruhi Tingkat Stres Ibu Yang
Memiliki Anak Dengan Spektrum Autisme
1. Konsep Stres Pengasuhan pada Ibu
Stres pengasuhan (parenting stress) adalah tekanan
psikologis yang muncul dari tuntutan peran sebagai orang tua yang dirasakan
melebihi sumber daya personal yang dimiliki (Abidin, 1992). Ibu seringkali
melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan ayah karena peran
mereka sebagai pengasuh utama (primary caregiver). Pada kasus GSA,
gejala perilaku anak yang sulit diprediksi dan tantangan komunikasi menjadi
sumber stresor kronis yang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis ibu
(Ginanjar, 2008).
2. Definisi dan Dimensi Dukungan
Sosial
Dukungan sosial merupakan kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau
bantuan yang diterima individu dari orang lain atau kelompok (Sarafino &
Smith, 2014). House (dalam Smet, 1994) membagi dukungan sosial menjadi empat
dimensi utama:
a. Dukungan Emosional: Empati, cinta, dan kepercayaan.
b. Dukungan Instrumental: Bantuan langsung berupa tenaga atau
finansial.
c. Dukungan Informatif: Pemberian saran, arahan, atau informasi
terkait penanganan anak.
d. Dukungan Penghargaan: Umpan balik positif dan penguatan terhadap
kemampuan ibu.
3.
Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Stres Ibu
Keluarga (terutama suami) merupakan lingkaran dukungan pertama dan
terpenting. Dukungan dari suami berfungsi sebagai faktor pelindung (protective
factor) yang signifikan dalam memitigasi dampak stresor. Penelitian
menunjukkan bahwa ibu yang merasa dibantu oleh suaminya dalam tugas pengasuhan
dan pekerjaan rumah tangga menunjukkan tingkat depresi yang lebih rendah (Gray,
2006). Sebaliknya, konflik keluarga atau kurangnya keterlibatan suami dapat
memperburuk kondisi emosional ibu (Patterson, 2002).
4. Pengaruh Dukungan Lingkungan dan
Masyarakat
Dukungan lingkungan mencakup bantuan dari keluarga besar, teman,
tetangga, serta komunitas profesional.
a. Lingkungan Sosial: Penerimaan tetangga dan masyarakat sekitar
terhadap kondisi anak GSA dapat mengurangi beban emosional ibu terkait stigma
sosial (Gray, 2002).
b. Komunitas Pendukung: Berinteraksi dengan sesama orang tua yang
memiliki anak GSA memberikan perasaan senasib (shared experience) yang
memperkuat koping ibu melalui pertukaran informasi dan validasi emosional
(Bayat, 2007).
5. Mekanisme Dukungan Sosial dalam
Menurunkan Stres
Berdasarkan
Buffering Hypothesis (Hipotesis Penyangga), dukungan sosial bertindak
sebagai penyangga yang melindungi individu dari efek negatif stres (Lazarus
& Folkman, 1984). Dukungan sosial memengaruhi persepsi ibu terhadap beban
yang dipikul; dengan adanya bantuan (baik emosional maupun instrumental), ibu
tidak lagi melihat tantangan pengasuhan sebagai sesuatu yang mengancam,
melainkan sesuatu yang dapat dikelola (manageable) (Walsh, 2016).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Dinamika Resiliensi Orang Tua
Dinamika resiliensi orang tua dengan anak GSA bukanlah sebuah
kondisi statis, melainkan sebuah proses adaptasi aktif. Resiliensi ini
terbentuk melalui interaksi antara faktor risiko (stresor pengasuhan) dan
faktor pelindung. Orang tua yang resilien mampu mengubah persepsi mereka
terhadap tantangan, menemukan makna baru dalam pengasuhan, serta memiliki fleksibilitas
dalam mengelola peran keluarga. Kunci dari dinamika ini adalah kemampuan untuk
bangkit dari tekanan melalui efikasi diri yang kuat dan pemanfaatan sumber daya
internal maupun eksternal secara efektif.
2.
Perbedaan
Klinis Autisme Klasik vs. Sindrom Asperger (DSM-5)
Meskipun DSM-5 telah menyatukan keduanya ke dalam payung Gangguan
Spektrum Autisme (GSA), terdapat perbedaan klinis yang mendasar secara historis
dan fungsional:
a. Autisme Klasik: Ditandai dengan keterlambatan bahasa yang
signifikan, hambatan kognitif (IQ sering di bawah rata-rata), dan onset gejala
yang terlihat sangat awal (sebelum usia 3 tahun).
b. Sindrom Asperger: Tidak menunjukkan keterlambatan bahasa yang
signifikan secara klinis dan memiliki fungsi kognitif (IQ) yang normal hingga
tinggi. Hambatan utama lebih terletak pada pragmatik komunikasi sosial dan
kecanggungan motorik.
c. Relevansi DSM-5: Perbedaan kini lebih ditekankan pada Level
Dukungan yang dibutuhkan (Level 1, 2, atau 3) daripada label diagnosis
terpisah.
3.
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Stres Ibu
Dukungan
sosial memiliki pengaruh yang sangat signifikan sebagai penyangga (buffer)
terhadap tingkat stres ibu.
a. Dukungan Keluarga: Khususnya dari suami, merupakan prediktor utama
rendahnya tingkat stres dan depresi pada ibu. Keterlibatan suami dalam bantuan
instrumental dan emosional secara langsung menurunkan beban pengasuhan.
b. Dukungan Lingkungan: Penerimaan masyarakat dan keberadaan komunitas
sesama orang tua membantu ibu mengatasi stigma dan memberikan validasi
emosional.
c. Kesimpulan Hubungan: Semakin tinggi dan tepat jenis dukungan sosial
yang diterima (terutama dukungan instrumental dan emosional), maka semakin
rendah tingkat stres pengasuhan yang dirasakan oleh ibu, yang pada akhirnya
meningkatkan kualitas interaksi ibu dan anak.
3.2 Saran
1.
Pengembangan Penelitian
Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian
longitudinal guna melihat bagaimana dinamika resiliensi orang tua berubah
seiring dengan bertambahnya usia anak (dari masa kanak-kanak ke masa
remaja/dewasa).
2.
Bagi Orang Tua:
a.
Sangat
disarankan bagi orang tua untuk bergabung dengan komunitas atau support
group sesama orang tua anak GSA. Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan
emosional dan pertukaran informasi teknis mengenai terapi.
b.
Membangun
komunikasi yang terbuka antara ayah dan ibu dalam pembagian tugas pengasuhan (co-parenting)
guna mencegah kelelahan fisik dan mental (burnout).
3.
Bagi Lingkungan Masyarakat:
Masyarakat
diharapkan dapat memberikan dukungan inklusif dan menghentikan stigma negatif
terhadap perilaku anak GSA di tempat umum, karena penerimaan lingkungan sangat
berpengaruh pada penurunan stress ibu.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.
Attwood, T. (2023). The Complete Guide to Asperger's Syndrome.
London: Jessica Kingsley Publishers.
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control.
New York: W.H. Freeman and Company.
Bayat, M. (2007). Evidence of resilience in families of children
with autism. Journal of Intellectual Disability Research, 51(9),
702-714.
Desiningrum, D. R. (2017). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus.
Yogyakarta: Psikosain.
Ginanjar, A. S. (2008). Menjadi Orang Tua Khusus: Penanganan
Anak Autistik. Jakarta: Dian Rakyat.
Gray, D. E. (2002). Ten years on: A longitudinal study of families
of children with autism. Journal of Intellectual & Developmental
Disability, 27(3), 215-222.
Gray, D. E. (2006). Coping over time: The parents of children with
autism. Journal of Intellectual Disability Research, 50(12), 970-976.
Grotberg, E. H. (1995). A Guide to Promoting Resilience in
Children: Strengthening the Human Spirit. The Hague: Bernard van Leer
Foundation
Handojo, Y. (2009). Autisme: Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi
untuk Mengajar Anak Autis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Handojo, Y. (2021). Autisma: Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi
untuk Mengajar Anak Autis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Kanner, L. (1943). Autistic disturbances of affective contact. Nervous
Child, 2, 217–250.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and
Coping. New York: Springer Publishing Company.
Lord, C., Brugha, T. S., Charman, T., Cusack, J., Dumas, G.,
Frazier, T., ... & Veenstra-VanderWeele, J. (2018). Autism spectrum
disorder. The Lancet, 392(10146), 508-523.
Patterson, J. M. (2002). Integrating family resilience and family
stress theory. Journal of Marriage and Family, 64(2), 349-360.
Sunardi, & Sunaryo. (2020). Intervensi Dini Anak
Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika Aditama
Shattuck, P. T., Narendorf, S. C., Cooper, B., Sterzing, P. R.,
Wagner, M., & Taylor, J. L. (2012). Postsecondary education and employment
among youth with an autism spectrum disorder. Pediatrics, 129(6),
1042-1049.
Walsh, F. (2016). Strengthening Family Resilience (3rd ed.).
New York: The Guilford Press.
